Jualan Program Kerja Vs Politik Uang, Dalam Menimang Calon Kepala Pekon

Newslampungterkini.com – Tadi pagi ada kawan chat saya membahas tentang berapa tulisan saya di FB maupun blog pribadi saya berkaitan dengan pemilihan Kepala Desa, Kepala Kampung, Kepala Pekon, Kepala Tiyuh, Peratin dan atau sebutan lainnya. Beliau menyampaikan dua kondisi saat ini yang menurutnya sebuah Fenomena, yakni:
Pertama : Tingginya minat masyarakat yang berkeinginan untuk menjadi Kepala Pekon di tengah maraknya Kepala Pekon yang terjerat kasus korupsi Dana Desa (DD) maupun Alokasi Dana Desa (ADD).
Kedua : Mahalnya Biaya Politik/ Cost politik para calon akibat sikap pragmatis calon maupun pemilih yang menurutnya ini justru akan mengaburkan tujuan dan niat mulya si calon yang hendak mengabdikan dirinya untuk masyarakat.
Dari informasi yang telah beredar, Kabupaten Tanggamus, Lampung dalam waktu dekat tepatnya tanggal 7 Juli 2022, kembali akan menggelar pemilihan Kepala Pekon (Pilkakon) serentak.
Ada 68 Pekon yang akan menggelar Pilkakon, tersebar di 18 Kecamatan, sebanyak 225 bakal calon (Balon) sudah mendaftarkan diri, bahkan terdapat 5 Pekon yang calonnya lebih dari 5 orang oleh karenanya harus diadakan seleksi berupa ujian tertulis agar calon Kakon tidak lebih dari 5 orang di setiap Pekon.
Kalau kita lihat data di atas, apa yang disampaikan oleh kawan saya tadi, benar adanya, bahwa animo masyarakat saat ini cukup tinggi untuk menguji nyali dan mencari keberuntungan dalam arena Pilkakon.
Pertanyaan sederhana untuk mengurai apa yang disebut oleh kawan tadi sebagai “Fenomena” baru di arena Politik Desa adalah modal apakah yang layak dijual untuk memenangangkan “Perjudian” kontestasi Pilkakon saat ini?”.
Jawabnya tergantung sikap dari mayoritas pemilih, apakah warga pemilih sudah terjangkit penyakit Pragmatis dan Apatis atau sebaliknya apakah masih banyak yang punya pemikiran dan sikap Idealis.
Pragmatis dalam arti yang penting saya dapat hari ini, soal nanti urusan nanti. Atau Sikap Apatis dalam arti warga sudah muak dengan segala janji-janji para penjaja jualan politik yang selama ini hanya pemanis bibir bahan kempanye sebelum jadi tapi lupa setelah mereka jadi, kalau ini yang mayoritas, maka calon Kakon yang main Money Politik atau Politik Uang yang akan menang.
Pun sebaliknya jika mayoritas pemilih masih punya pemikiran dan sikap Idealis, yang masih berharap akan lahirnya pemimpin yang mengayomi rakyatnya, pemimpin yang adil, tegas, bijaksana, empati dan mampu mewujudkan program-program yang benar-benar menjadi kebutuhan rakyatnya, maka calon yang jualan Program Kerja yang akan jadi pemenangnya.
Satu hal yang harus dipahami, pemimpin dalam birokrasi itu termasuk didalamnya pemerintahan Pekon bahwa biaya penyelenggaraan pemerintahan itu tidak menggunakan uang pribadi, tapi bagaimana memaksimalkan anggaran yang ada, mencari dan atau menggali sumber pendapatan lain yang sah dengan memanfaatkan sumberdaya Alam dan Sumber Daya Manusia di sekelilingnya.
Pendeknya kalau ada Kepala Pekon menggunakan dana pribadinya untuk menjalankan roda pemerintahan di Pekonnya itu bukan sebuah Kemampuan, tapi justru menunjukan ketidak pahaman tentang tata kelola pemerintahan.
Kalau karena dia kaya terus bisa membangun pekonnya dengan uangnya sendiri, terus kenapa harus menunggu menjadi Kepala Pekon?. Kita justru harus waspada jangan-jangan ada udang di balik batu.
Maksud saya begini, mari kita berfikir lebih jauh, jangan pernah memilih karena kita dikasih uang, jangan memilih karena dia orang kaya, tapi pilih lah karena kita yakin Pekon kita akan lebih maju, lebih sejahtera, lebih aman dan lebih bahagia, kalau dia yang kelak jadi pemimpin.
Boleh dia kaya, boleh dia miskin, boleh dia perempuan, boleh dia laki-laki, boleh dia tua atau dia masih muda, asalkan kita yakin dan percaya dia kelak bisa mewujudkan janji dalam bentuk program-program unggulan yang sesuai dengan kepentingan mayoritas masyarakat.
Tinggalkan saja, jangan pilih calon Kakon yang tak punya program jelas, apalagi kita tak yakin dia bisa mewujudkannya, terelpas kaya kah dia, miskin, laki, perempuan, muda atau tua, ada ikatan saudara atau orang jauh sekalipun. Kalau tidak ada program kerja yang jelas, bisa dipastikan kedepannya yang bersangkutan akan melenceng dari niat luhurnya membangun Pekon, karena kelak program kerja itulah akan menjadi barometer dan tolak ukur keberhasilan Kakon memimpin.
Bila tidak ada program kerja, maka kerjanya kelak akan sesuka hatinya, tanpa arah dan tidak ada skala prioritas, semau dia gunakan anggaran, hal inilah yang menyebabkan banyak kasus Kakon terjerat Korupsi.
Satu hal yang tidak bisa di dramatisir pada orang kampung adalah mata hati mereka lebih peka. Sebanyak apa duit mu, setinggi apa pendidikan mu, sebanyak apa saudara mu, sehebat apa program mu, kalau kau jauh dari mereka, kau sombong apalagi kau pernah menyakiti hati mereka, maka semua hartamu, janji manismu itu tak akan berarti apa-apa bagi mereka. “Selamat menimang calon”
Penulis: Nafian Faiz.
- Putra Kelahiran Pulau Tabuan, Tanggamus, Pernah Kepala Kampung Bumi Dipasena Jaya, Rawajitu Timur, Tulang Bawang, Preode 2003-2007 dan 2014-2019.