Potensi Desa Wisata dan Produk Tanaman ‘Purun Danau’ asal Gedung Ratu di Tubaba

Newslampungterkini.com – Kepala Tiyuh (Desa) Gedung Ratu, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) Lampung, terus berupaya meningkatkan potensi wisata dan produk UMKM khas Tubaba dari bahan tanaman Purun Danau.
Dikatakan Juaini Bandarsyah Kepala Tiyuh resebut, potensi wisata Tubaba dan hasil kerajinan tradisional yang terbuat dari tanaman Purun danau atau rawa, dikembangkan warganya dan menjadi kerajinan khas.
“Program tiyuh wisata dan pelestarian kerajinan anyaman tikar merupakan salah satu program unggulan tiyuh Gedung Ratu di Tubaba. Kearifan lokal daerah memfokuskan identitas khas dan kelestarian budaya,” kata Juaini Senin (30/1/2023).
Menurut mantan Ketua PWI Tubaba periode 2014-2016 itu, program pemberdayaan masyarakat tersebut, juga merupakan upaya meningkatkan Pendapatan Asli Tiyuh (PAT) dan upaya pelestarian lingkungan.
“Untuk kerajinan tradisional anyaman bermaterial tanam Purun, yang dihasilkan untuk bahan baku anyaman tikar, merupakan peninggalan nenek moyang sejak berapa abad yang lalu. Ditengah gempuran kehidupan modern, Tiyuh Gedung Ratu berupaya konsisten mempertahankan kelestarian produk ramah lingkungan itu,” kata Juaini.
Lanjutnya, pelestarian kerajinan anyaman tanaman Purun akan di selaraskan dengan program tiyuh wisata, dan kedua program unggulan tersebut sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke tiyuh Gedung Ratu, untuk mendapatkan oleh-oleh kerajinan tradisional.
“Sementara ini ada 20 jenis produk rumahan hasil karya ibu-ibu PKK tiyuh Gedung Ratu yang di produksi. Diantaranya produk berupa Anyaman Tikar, Peci, Sajadah, Taplak Meja, Wadah Tisu, dan produk tradisional lainnya. Semuanya di produksi dengan proses tradisional dengan desain yang unik serta harga terjangkau,” jelas Juaini.
Pada sektor wisata, di ungkapkan Kepala Tiyuh Gedung Ratu itu, akan melestarikan pinggiran sungai Way Kiri sebagai tempat wisata alam, agar bisa di di kunjungi keluarga.
“Dibuatkan fasilitas tempat duduk keluarga untuk bersantai menikmati suasana pinggiran sungai yang diperindah dengan lampu hias, dan fasilitas perahu. Tempat kuliner atau tempat makan keluarga dan tempat bermalam berupa rumah tradisional atau rumah adat” kata Juaini.
Pentingnya dokumentasi dalam pelestarian budaya, dijelaskan Juaini tiyuh Gedung Ratu juga membuat film dokumenter tentang sejarah tanaman Purun material tikar atau dikenal dengan tanaman ‘tikuw’.
“Kami harapkan Kedepan Tubaba akan menjadi salah satu kampung tujuan wisata dengan ikon wisata aliran sungai yang dikembangkan oleh tiyuh dan berbagai kerajinan anyaman tikar terbesar di Lampung,”pungkasnya.
Laporan : Dedi Priyono